Selasa, 19 Juni 2012

Analisis Tentang Pengemis Di Indonesia

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Kita manusia sebagai makhluk individu dan sosial yang hidup di lingkungan masyarakat sering menjumpai kalangan orang yang meminta-minta. Kebutuhan yang semakin mendesak mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut. Terutama orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan/penghasilan tetap. Tidak hanya mereka yang benar-benar tidak mampu mencari pekerjaan karena ketidakmampuan fisik dan mental, mereka yang memiliki fisik dan mental yang normal juga melakukan pekerjaan tersebut. Tidak ada pekerjaan lain, tidak memiliki modal untuk membuka usaha, dan tidak memiliki pendidikan/keterampilan yang membuat mereka memilih untuk mengemis.

  1. PERMASALAHAN
Pengemis sebagai masalah sosial yang cukup signifikan, sudah menjadi permasalahan di dalam masyarakat dan memunculkan perbedaan pendapat tentang bagaimana cara menanggulanginya dan siapa yang bertanggung jawab atas mereka. Berbagai solusi dan kebijakan sudah dikemukakan, namun seolah-olah solusi dan kebijakan itu menimbulkan kebuntuan dan kontroversi tersendiri.
Secara umum, kita mengetahui bahwa para pengemis adalah bagian dari masyarakat yang dianggap sebagai tuna karya, tuna wisma (homeless). Akan tetapi, sebagian dari masyarakat kita terlanjur mengakui bahwa semua pengemis pantas untuk dianggap seperti yang telah disebutkan diatas, dan mengabaikan tentang latar belakang mereka.
Oleh karena itu kami melakukan observasi terhadap masalah tersebut dan mencoba untuk menganalisis faktor-faktor penyebab mereka meminta-minta, akibat-akibat yang ditimbulkan dan bagaimana peran masyarakat dalam mengatasi masalah tersebut.

  1. ANALISIS
Untuk mendapatkan informasi yang menyimpulkan faktor apa saja yang menyebabkan orang meminta-minta, harus diadakan observasi dengan mewawancarai pihak-pihak yag terkait secara langsung, dan faktor yang dominan adalah :
1.      Kemiskinan.
Permasalahan ekonomi memang paling besar pengaruhnya terhadap keluarga yang tidak mampu. Biaya hidup jaman sekarang yang tinggi merupakan beban finansial bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Sehinga jalan keluar yang mereka pilih adalah dengan meminta-minta.

2.      Budaya
Budaya mengemis ada karena sebagian besar masyarakat ditempat tinggal mereka berprofesi sebagai pengemis, sehingga mereka melakukan pekerjaan tersebut yang mereka anggap sudah turun temurun dan membudaya.
3.      Keterbatasan Fisik dan Mental
Bagi mereka penyandang cacat tentunya tidak mungkin untuk melakukan pekerjaan sebagaimana yang orang normal lakukan. Apalagi bagi mereka dari  keluarga miskin, tidak mempunyai modal untuk membuka usaha, jadi yang bisa mereka lakukan hanyalah meminta-minta.

4.      Pergaulan
Ajakan dan bujukan seorang teman memang sangat ampuh dalam mempengaruhi pendirian seseorang. Banyak sekali orang memlih untuk menjadi pengemis karena bujukan teman, dan juga iming-iming memperoleh penghasilan tanpa harus bekerja keras.

Dampak negatif yang timbul akibat kegiatan ini antara lain :
1.      Bagi diri sendiri
Mereka yang melakukan pekerjaan tersebut akan merasa malu di dalam masyarakat, kemudian mereka akan dikucilkan. Dan mereka akan merasa terdiskriminasi di dalam masyarakat.

2.      Bagi Masyarakat/Lingkungan
Kegiatan meminta-minta yang mereka lakukan jelas mengganggu kenyamanan masyarakat/lingkungan, karena mereka keberadaan mereka yang berada di tempat umum. Tidak sedikit dari mereka meminta-minta dengan mengajak anak-anak mereka yang masih balita.

3.      Bagi Negara
Meminta-minta jelas memiliki dampak negatif terhadap negara kita, karena negara kita dianggap negara yang tidak mampu menjamin kemakmuran hidup warganya, sehingga hal ini menimbulkan masalah sosialyang juga menjadi tanggung jawab negara.
Tanggung jawab atas pengemis, mungkin seharusnya menjadi salah satu kewajiban pemerintah apabila kita merujuk pada UUD 1945 Pasal 34:
(1) Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
(2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang layak.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Beberapa Solusi
Setelah kita mengkaji latar belakang para pengemis dan mengetahui siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas mereka, maka muncul beberapa solusi yang ditawarkan:
1.   Mengusulkan kepada pemerintah untuk segera membangun tempat khusus bagi para pengemis, baik pengemis difabel maupun pengemis non difabel yang menyediakan fasilitas untuk meningkatkan kemampuan produktif ekonomi mereka.
2.   Mempertimbangkan untuk memotivasi para pengemis non difabel yang memiliki sifat kemalasan berkepanjangan dan mungkin menjadikan mengemis sebagai sebuah profesi atau pekerjaan tetap dengan cara mengurangi pemberikan bantuan kepada mereka.

  1. KESIMPULAN

Kenapa di Indonesia terus meningkat jumlah orang yang meminta-minta tiap tahunnya?? Apabila faktor pendorong orang untuk mengemis terus meningkat dan pemerintah lamban dalam menangani kasus ini maka peningkatan jumlah orang yang meminta-minta dan dampak negatif yang ditimbulkan akan terus bertambah, sehingga  akan memperburuk kondisi lingkungan sekitar kita maupun negara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar